
Sejumlah warga menyebut, sebelum proyek National Urban Flood Resilience Project (NUFRep) masuk ke wilayah mereka, aliran air bersih berjalan normal tanpa kendala. Namun, sejak pembangunan jembatan di perbatasan RT 03 dan RT 06, pipa distribusi air mengalami kerusakan hingga menyebabkan aliran terhenti.
Ironisnya, kerusakan tersebut tidak segera ditangani oleh pihak pelaksana proyek. Kondisi ini memicu kemarahan warga yang merasa hak dasar mereka atas air bersih diabaikan.
“Kami tidak butuh jembatan, kami butuh air bersih,” tegas Sahbudin, salah seorang warga setempat, saat ditemui di lokasi, Sabtu (14/2).
Menurut Sahbudin, air bersih merupakan kebutuhan paling mendesak bagi warga. Ia menegaskan, apabila perbaikan pipa air tidak dilakukan hari ini, maka warga sepakat meminta seluruh aktivitas proyek dihentikan sementara.
Desakan warga akhirnya memaksa pihak pelaksana proyek untuk merespons. Perwakilan pelaksana yang berada di lokasi menyatakan akan mengupayakan perbaikan pipa air bersih pada sore hari.
Warga berharap janji tersebut benar-benar direalisasikan. Mereka menegaskan tidak menolak pembangunan, namun meminta agar pelaksanaan proyek tidak mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat.
“Kami mendukung pembangunan, tapi jangan sampai kami menderita karena air tidak mengalir,” ujar warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu realisasi perbaikan pipa air bersih oleh pihak pelaksana proyek di wilayah Kecamatan Mpunda, Kota Bima.
#S1