Kabupaten Bima, Solusinewsntb.- Delian Lubis Salah satu Aktivis Muda Bima menilai Fenomena kepemimpinan daerah di Kabupaten Bima belakangan ini menunjukkan dinamika yang menarik. Gaya kepemimpinan Ady Mahyudi bersama wakilnya Irfan Zubaydi mulai mencerminkan pola relasi politik yang tidak hanya solid secara struktural, tetapi juga kian “romantis” dalam konteks kerja-kerja pemerintahan.
Istilah “romantis” di sini tentu bukan dalam makna personal, melainkan sebagai metafora atas keharmonisan, kekompakan, dan keselarasan visi yang terbangun di antara keduanya. Dalam praktiknya, hal ini terlihat dari minimnya gesekan politik di ruang publik, keseragaman narasi kebijakan, serta konsistensi dalam menyampaikan program pembangunan kepada masyarakat.
Dalam tradisi politik lokal, hubungan antara kepala daerah dan wakilnya kerap diwarnai disharmoni setelah kontestasi usai. Perbedaan kepentingan politik, pembagian kewenangan, hingga ego kekuasaan sering kali menjadi sumber konflik laten. Namun, yang ditunjukkan oleh duet kepemimpinan ini justru sebaliknya
sebuah model kolaborasi yang relatif stabil dan saling menguatkan.
Kepemimpinan Ady Mahyudi tampak menonjol dalam perumusan arah kebijakan dan komunikasi politik tingkat atas, sementara Irfan Zubaydi berperan aktif dalam penguatan basis implementasi program di lapangan. Pembagian peran yang tidak tumpang tindih ini menjadi salah satu faktor yang memperkuat efektivitas pemerintahan.
Lebih jauh, pendekatan “romantis” ini juga memberi dampak psikologis bagi birokrasi. Aparatur sipil negara cenderung bekerja dalam suasana yang lebih kondusif ketika tidak ada tarik menarik kepentingan di pucuk pimpinan. Stabilitas ini berimplikasi langsung pada percepatan program dan konsistensi pelayanan publik.
Namun demikian, romantisme politik bukan tanpa risiko. Harmoni yang terlalu kuat juga berpotensi menimbulkan minimnya kritik internal. Dalam sistem pemerintahan yang sehat, perbedaan pandangan justru dibutuhkan sebagai mekanisme check and balance. Oleh karena itu, tantangan ke depan bagi duet ini adalah menjaga keseimbangan antara kekompakan dan ruang dialektika yang konstruktif.
Pada akhirnya, gaya kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Ady Mahyudi dan Irfan Zubaydi dapat menjadi contoh menarik dalam lanskap politik lokal bahwa kekuasaan tidak selalu harus diwarnai konflik, tetapi juga bisa dijalankan dengan harmoni yang produktif. Tinggal bagaimana romantisme ini terus dijaga agar tetap berorientasi pada kepentingan publik, bukan sekadar citra politik semata.
“Opini”









